Jika di tolak terus menerus, apa yang harus di lakukan sales?


Ditolak terus-menerus adalah fase paling krusial yang pasti dilewati oleh semua sales hebat. Di titik ini, tantangannya bukan lagi soal teknik berjualan, melainkan strategi mental dan evaluasi taktis. Ketika penolakan terjadi secara beruntun, itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu dalam proses kerja Anda yang harus segera diubah.

Berikut adalah langkah-langkah konkret yang harus dilakukan seorang sales jika menghadapi penolakan terus-menerus:

1. Ambil Jeda Singkat dan Detoks Mental (Reset Mindset)

Ketika Anda ditolak berkali-kali dalam sehari, energi negatif dan rasa frustrasi akan menumpuk. Jika Anda langsung memaksakan diri masuk ke toko berikutnya dengan kondisi stres, calon konsumen bisa merasakan energi negatif tersebut melalui nada bicara atau gestur Anda.

  • Berhenti Sejenak: Ambil waktu 5–10 menit untuk minum, menarik napas dalam-dalam, atau menjauh dari area penjualan.
  • Ingat Hukum Rata-Rata (Law of Averages): Di dunia sales, penolakan adalah bagian dari statistik. Jika rasio Anda adalah 1:10 (1 closing dari 10 penawaran), maka setiap kali Anda mendengarkan kata "Tidak", artinya Anda sedang berjalan selangkah lebih dekat menuju kata "Ya".

2. Bedah Ulang Target Pasar (Apakah Salah Masuk Toko?)

Kembali ke analogi adaptasi: bisa jadi Anda ditolak terus-menerus karena Anda menawarkan produk ke toko yang salah.

  • Cek Profil Toko: Apakah Anda memaksakan produk premium ke toko grosir murah yang hanya mengejar kuantitas? Atau sebaliknya, menawarkan produk murah bermargin tipis ke toko yang segmennya mengutamakan kualitas?
  • Petakan Ulang (Kualifikasi Prospek): Jangan asal hantam semua toko. Cari toko yang memang memiliki masalah yang bisa diselesaikan oleh produk Anda. Jika toko tersebut mengeluhkan produk kompetitor yang sering kosong, itulah celah masuk Anda.

3. Evaluasi "Kalimat Pembuka" (The First 10 Seconds)

Penolakan yang terjadi di menit-menit awal biasanya bukan karena produk Anda jelek, melainkan karena cara Anda membuka obrolan gagal menarik minat atau justru membuat pemilik toko langsung memasang dinding pertahanan.

  • Ubah Pendekatan: Jangan langsung jualan (hard selling). Ganti kalimat pembuka Anda dari "Halo Bos, saya mau menawarkan produk baru..." menjadi pendekatan yang berorientasi pada keuntungan mereka, misalnya: "Halo Bos, saya lihat pajangan di depan ramai terus. Boleh tahu produk kategori [X] di sini yang paling cepat habis apa ya, Bos?"
  • Fokus pada Cuan, Bukan Produk: Pemilik toko retail tidak peduli seberapa hebat pabrik produk Anda. Mereka hanya peduli: "Berapa keuntungan (margin) buat saya?" dan "Apakah barang ini cepat laku (putaran cepat)?".

4. Analisis Alasan Penolakan (Objection Handling)

Catat setiap alasan penolakan dari toko-toko tersebut. Biasanya, penolakan akan berpola. Setelah Anda tahu polanya, siapkan senjata jawabannya:

  • Jika alasannya "Modal lagi seret / gak ada uang": Tawarkan sistem pengambilan slot kecil dulu (test market) atau tawarkan program promosi khusus.
  • Jika alasannya "Produk sejenis merek sebelah lebih laku": Jangan menjelekkan merek sebelah. Katakan: "Benar Bos, merek itu memang kuat. Tapi konsumen sekarang banyak yang cari alternatif karena harga mereka mulai naik. Produk saya ini hadir untuk mengisi celah konsumen yang sensitif harga itu, jadi Bapak/Ibu tidak kehilangan momentum."

5. Ubah Strategi: Tawarkan "Uji Coba" Minim Risiko

Jika pemilik toko sangat kaku dan takut mengambil risiko (bermental dinosaurus), turunkan tembok penolakan mereka dengan menawarkan program yang minim risiko.

  • Paket Tester / Minimal Order Kecil: Jangan langsung tawarkan satu karton besar. Izinkan mereka mengambil beberapa pieces dulu untuk melihat respons pasar.
  • Program Stimulus: Tawarkan bonus pajangan, gantungan kunci, atau alat promosi (POSM) gratis agar toko mereka terlihat lebih hidup jika memajang produk Anda.

📌 Prinsip Emas Sales Lapangan:

"Evaluasi saat ditolak, replikasi saat berhasil." Jangan mengubah produknya, tapi ubahlah cara Anda bercerita tentang produk tersebut di depan pemilik toko.




 

0 Comments:

Posting Komentar